09/12/15

Metode Tafsir Syi'ah

oleh: Ahmad Putra Dwitama
Alquran adalah sebuah kitab suci yang kaya makna. Hal ini ini dibuktikan bahwa setiap orang bisa memaknai Alquran dengan berbeda, sesuai latar belakang sosial dan latar belakang pengetahuannya. Pantas saja jika Abdullah Darraz memisalkan Alquran dengan permata yang setiap sudutnya memancarkan cahaya. Begitu juga Alquran, setiap sudutnya memancarkan makna yang demikian mendalam, jika hal tersebut dikorelasikan dengan tradisi penafsiran Alquran kontemporer (dalam hal ini hermeneutika, yang selalu menyatukan antara teks dan realitas) maka wajar saja jika hal tersebut terjadi. Karena setiap mufassir selalu membawa latar belakang yang berbeda. Akibatnya, Alquran pun ditafsirkan dengan corak dan ragam yang berbeda-beda pula.

Keragaman penafsiran Alquran yang berbeda-beda tersebut semakin mendapat tempatnya pada periode pertenganhan. Pada periode ini, berbagai cabang keilmuan Islam, juga ideologi yang berkembang di dunia Islam, turut memberi warna dalam tradisi penafsiran Alquran. Sehingga melahirkan beberapa corak penafsiran yang berbeda-beda. Di antaranya tafsir corak fiqih, teologis, sufistik, falsafi, dan ilmi.
Di antara gemuruh corak penafsiran di atas, muncul sebuah corak penafsiran yang unik. Unik karena penafsiran ini sama sekali tidak dipengaruhi cabang keilmuan apapun. Corak penafsiran ini hanya dipengaruhi oleh salah satu aliran dalam dunia Islam, yaitu aliran Syi'ah. Aliran yang merupakan rical utama dunia Sunni ini banyak memberika kontribusi yang berarti dalam tradisi penafsiran di dunia Islam. Dari kalangan ini, telah bermunculan banyak kitab tafsir.
Dalam tulisan ini akan dikaji banyak hal tentang tafsir Syi'ah. Paling tidak, tulisan ini mampu membuka mata lebih lebar bahwa ternyata kalangan Syi'ah pun cukup memberika apresiasi yang berarti dalam tradisi penafsiran Alquran di dunia Islam, seperti terjadi di kalangan Sunni.
a.       Pengertian Tafsir Syi'ah
Sebelum memberikan definisi mengenai tafsir Syi'ah, perlu kita perhatikan dahulu dua term; tafsir dan Syi'ah. Dalam beberapa literatur ilmu-ilmu Alquran, tafsir bisa disimpulkan sebagai upaya seorang mufassir dalam memaknai dan menjelaskan makna Alquran. Di antaranya Muhammad Husain Adz-Dzahabi mengatakan bahwa tafsir yaitu ilmu yang membahas tentang maksud Allah sesuai dengan kemampuan mufassir yang mencakup segala sesuatu tentang pemahaman terhadap makna dan penjelasan terhadap maksud ayat.[1]
Sedangkan Syi'ah secara bahasa adalah pengikut, pendukung, partai, atau kelompok. Menurut istilah adalah kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaan merujuk pada keturunan Nabi Muhammad Saw. atau yang disebut sebagai ahlul bait. Dalam bahasa mudahnya, dan hal ini lazim dikenal di dunia islam, Syi'ah adalah aliran dalam teologi Islam yang memihak dan sangat memuliakan Ali berserta keturunannya. Bahkan Muhammad Husain Adz-Zahabi menyebut Syi'ah sebagai kelompok yang mengagungkan Ali berserta keluarganya.[2] Sampai-sampai disebutkan bahwa Ali adalah imam setelah Rasulullah, dan orang yang berhak mewarisi kekhalifahan.[3]
Selanjutnya, dalam tubuh kelompok Syi'ah sendiri ada dua aliran. Muhammad Ali as-Shabuni menyebutkan, ada kelompok Syi'ah yang terlalu fanatik, sehingga mereka sampai terjerumus pada kekufuran dan kesesatan. Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib sendiri membenci mereka. Tokoh utamanya adalah Ibnu Saba', keturunan Yahudi. Di samping itu ada juga kelompok Syi'ah yang moderat. Mereka tidak sampai terjerumus pada kekufuran dan kesesatan, walaupun mereka tetap saja menentang kaum Sunni.[4]
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tafsir Syi'ah adalah tafsir Alquran yang muncul dari kalangan Syi'ah yang banyak memakai pendekatan simbolik, yaitu mengkaji aspek batin Alquran.[5] Lebih lanjut kalangan Syi'ah menyebutkan bahwa aspek batin Alquran bahkan dipandang lebih kata dari pada aspek lahirnya.
b.      Latar Belakang Kemunculan Tafsir Syi'ah
Untuk melihat kapan pastinya tafsir Syi'ah muncul di dunia Islam, perlu kiranya diperhatikan faktor yang menyebabkan timbulnya tafsir di kalangan ini. Dalam bahasa Ignaz Goldziher, kita harus mempertanyakan apa tujuan yang ingin dicapai oleh penganut sekte Syi'ah dengan memasukkan kepentingan sekte keagamaan serta prinsip-prinsip dasar mereka ke dalam penafsiran Alquran.[6] Selanjutnya Goldziher menyebutkan bahwa sebenarnya mereka mencari justifikasi dari Alqruan untuk melakukan penolakan terhadap kepemimpinan Ahlu Sunnah, dengan melakukan rong-rongan atas kekhalifahan di bawah kekuasaan Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah, kemudian melontarkan gagasan kesuian atas diri sahabat Ali serta para imam.
Dari sini dapat dilihat, sebenarnya upaya penafsiran Alquran sudah dilakukan sejak zaman Ali. Dan momentumnya terjadi pada zaman Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah. Pada masa tersebut golongan Syi'ah mendapat tekanan begitu besar dari penguasa waktu itu. Sehingga penafsiran mereka pun lebih banyak pada upaya-upaya apologetik dari kekuasaan dan pengaruh penguasa. Dimana, perseturuan antara golongan Syi'ah dengan pihak penguasa sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh permasalahan teologis dan politik.[7]
Memperkuat argumantasi di atas, Rosihon Anwar bahkan berani menyebutkan, bahwa tafsir Syi'ah muncul dengan tujuan memperkuat (melegitimasi) doktrin toelogis mereka, terutama doktrim imamah.[8] Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti sebagai berikut:
Pertama, menurut Imam ad-Dzahabi, tafsir simbolik (dalam hal ini tafsir Syi'ah) muncul pertama kali di kalangan Syi'ah ketika Syi'ah Isma'iliah muncul, yakni setelah wafatnya Imam Ja'far meninggal. Bahkan ada yang mengatakan doktrin imamah muncul semenjak Syi'ah Zahidiyah, aliran Syi'ah yang muncul terlebih dahulu.
Kedua, menurut para teologi muslim, benih-benih doktrin teologi Syi'ah dimunculkan oleh Abdullan bin Saba'. Beliau menebar benih-benih ini mendapat inspirasi dari ajaran Kristen dan Yahudi. Di antaranya adalah doktrin imamah. Dan perlu diketahui bahwa Ibnu Saba' hidup pada masa pemerintahan Utsman dan Ali.
Selanjutnya Rosihon menyimpulkan, bahwa tafsir Syi'ah muncul setelah kemunculan doktrin imamah, dan kemunculannya dipicu oleh doktrin ini. Dalam arti tafsir Syi'ah digunakan sebagai alat untuk mencari justifikasi bagi doktrin imamah. Lebih rigitnya, tafsir Syi'ah muncul bertepatan dengan kemunculan Syi'ah Isma'iliyah (147 H). kemunculan tafsir ini terjadi setelah munculnya doktrin Imamah yang muncul bertepatan dengan kemunculan Syi'ah Zaidiyah.[9] Jika demikian, benar bahwa tafsir Syi'ah muncul sejak zaman pemerintahan Ali, bahkan lebih jauh lagi sejak pemerintahan Utsman. Kemunculannya lebih banyak dipicu oleh kepentingan teologis atau bahkan politis, untuk mencari justifikasi doktrin Syi'ah, terutama masalah imamah.
c.       Metode Tafsir Syi'ah
Mazhab Syi'ah sebagian mereka meragukan tentang keorisinalitas dan keotentikan teks resmi Alquran yang dibaca sampai saat ini, yang dihimpun dan ditulis atas perintah khalifah Utsman bin Affan. Bahkan sikap mereka yang lebih ekstrim adalah menyatakan bahwa Alquran yang sering kita baca sehari-hari tidak ma'tsur untuk dijadikan sebagai sumber agama karena masih diragukan kebenaran dan keasliannya.
Pengikut Syi'ah meragukan seluruh isi Mushhaf Utsmani, sejak kemunculannya, terkait dengan kebenarannya. Mereka meyakini bahwa Mushhaf Utsmani yang dinisbatkan kepada Alquran yang benar, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw mengandung banyak tambahan dan perubahan yang signifian, begitu juga di dalamnya juga ada pengurangan-pengurangan dengan cara memotong makna-makna penting dari Alquran yang shahih dengan menjauhkan dan membuang makna.[10]
Mazhab Syi'ah secara umum menyatakan bahwa Alquran yang diturunkan oleh Allah SWT itu lebih banyak dan lebih panjang daripada Alquran yang beredar dikalangan kaum muslimin, dan lebih banyak dari Alquran mereka.[11] Dalam keyakinan Syi'ah, orang-orang yang ditugaskan oleh Utsman untuk menulis Alquran mempunyai niat buruk, dengan menganggap bahwa ayat-ayat yang mengandung terhadap pemujian Ali dihapus.[12] Mereka juga menyatakan bahwa mushhaf Ali yang merupakan mushhaf Alquran yang lebih dulu dihimpun telah ditulis atas dasar turunnya Alquran, artinya menurut tertib historis. Mereka menyatakan bahwa sahabat Ali telah menyusun Alquran (secara berurutan) menjadi 7 himpunan. Induk dari himpunan ini adalah; Surat al-Baqarah, Surat Ali Imran, Surat an-Nisa;, Surat al-Maidah, Surat al-An'am, Surat al-A'raf, dan Surat al-Anfal. Setelah induk-induk pembuka surat dari tiap-tiap himpunan ini, lalu dihadirkan surat-surat lain secara berurutan yang berbeda dengan susunan surat pada Mushhaf Utsmani.[13]
An-Nuri seorang tokoh pemuka kaum rafidhah menyatakan bahwa Alquran telah berubah dari aslinya, tidak lagi otentik. Ini terjadi karena ulah Abu Bakar dan Umar. Menurut An-Nuri, Alquran yang otentik adalah Alquran yang dikumpukan dan dicatat oleh Fatimah putri Rasulullah. Tebalnya tiga kalinya Alquran yang ada di zaman sekarang.[14]
Pada kesempatan kali ini, akan dibatasi pembicaraan pada cabang Syi'ah yang terpenting saja, karena sesungguhnya sebagian besar kelompok-kelompok Syi'ah dengan berbagai macam akidahnya telah tidak ada lagi dan tidak pula ditemukan pengarang-pengarang tafsir mereka. Hanya dua kelompok saja yang akan dibahas pada kesempatan kali ini, yakni Syi'ah Zaidiyah dan Syi'ah Imamiah (Syi'ah Itsna Asyariyah dan Syi'ah Ismailiyah).
Kedua kelompok Syi'ah di atas masih memiliki pengikut dan pendukung sampai saat ini. Kaum Syi'ah Itsna Asyariyah sekalipun menyeleweng, namun memiliki banyak tokoh-tokoh pengarang tafsir yang kitab-kitabnya memenuhi perpustakaan Islam. Begitu juga dengan Syi'ah Zaidiyah, mereka uga memiliki tokoh-tokoh tafsir yang kitab-kitabnya telah diakui oleh Ahlu Sunnah, seperti kitab tafsir karya Imam Syaukani yaitu Fathul Qadir.
Metode penafsiran yang dilakukan oleh Syi'ah Itsna Asyariyah adalah selalu berupaya sekuat tenaga untuk menyesuaikan ayat-ayat Allah dengan prinsip-prinsip mereka. Umpamanya saja tentang masalah imamah, mereka tidak hanya mecukupkan diri dengan perkataan yang meyakinkan serta nash-nash dari Rasululah Saw mengenai keimanan Ali dan imam-imam selanjutnya, tetapi mereka juga berusaha menundukkan ayat-ayat Allah SWT kepada pendapat tentang wajibnya keimaman Ali setelah Rasulullah secara langsung tanpa terputus.[15]
Sedangan pandangan mereka mengenai pengertian tafsir bil ma'tsur adalah keterangan-keterangan yang terdapat dalam Alquran itu sendiri, mengenai ayat-ayatnya, apa-apa yang dikutip dari Rasulullah, serta apa-apa yang diikuti dari imam-imam dua belas. Menurut mereka, ucapan-ucapan para imam yang ma'shum termasuk dalam kategori sunnah. Ucapan-ucapan para imam dianggap sebagai hujjah dan tak ubahnya seperti perkataan Nabi, karena ia berbicara dengan bimbingan dari Rasulullah sebagaimana Nabi berbicara dan dibimbing Allah.[16]
Adapun metode penafsiran yang digunakan oleh Syi'ah Ismailiyah di dalam menafsirkan Alquran adalah dengan menyatakan bahwa Alquran itu mempunyai dua makna, yaitu makna lahir dan makna batin. Sedangkan yang dikehendaki adalah makna batinnya, karena yang lahir itu sudah cukup dimaklumi dari ketentuan bahasa. Adapun nisbat antara yang batin dan yang lahir itu adalah seperti isi dengan kulitnya. Orang yang berpegang pada makna lahirnya akan mendapatkan siksaan oleh hal-hal yang menyulitkan dalam kandungan kitab suci. Sedangkan kalau mengambil pada ketentuan batinnya akan mengarah kepada sikap meninggalkan perbuatan amal lahirnnya.[17] Dalam hal ini mereka berpegang pada firman Allah dalam Surat Al-Hadid ayang 13;
"Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa."
Jika dibandingkan antara Syi'ah Zaidiyah dengan Syi'ah lainnya, maka kita akan mengetahui bahwa Zaidiyah telah menempuh jalan yang moderat yang lebih dekat dengan paham Ahlu Sunnah. Hal ini dikarenakan kaum Zaidiyah bersetuju sepenuhnya dengan keyakinan jumhur kaum Muslimin, bahwa Alquran adalah kitabullah yang tidak dinodai oleh kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari hadirat yang Maha Bijaksana dan Terpuji. Diantara tafsir dari Syi'ah Zaidiyah yang terkenal adalah kitab tafsir Fathul Qadir karya Imam Syaukani.[18]
Sebagaimana diketahui bahwa Syi'ah merupakan sebuah golongan yang sangat mengagungkan sahabat Ali bin Abli Thalib. Sampai-sampai kecintaannya ini telah melebihi batas, yakni menyatakan bahwa Ali lebih mulia dari Nabi sendiri. Sehingga keyakinan dan akidah mereka ini telah menghantarkannya pada penyelewengan-penyelewengan, diantaranya dalam penafsiran Alquran. Dalam menafsirkan Alquran, kebanyakan dari Syi'ah bertujuan untuk melegitimasi akidah dan kejakinan mereka. Sehingga dari sini corak penafsiran Syi'ah dikatakan sebagai corak mazhabi.
Telah disebutkan bahwa masing-masing aliran dalam Mazhab Syi'ah memiliki metode tersendiri dalam menafsirkan Alquran;
1.      Metode Tafsir Syi'ah Imamiyah Itsna Asy'ariyah
Adalah sudah menjadi tradisi di kalangan Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah untuk menyesuaikan ayat-ayat Allah dengan prinsip-prinsip ajaran mereka. Misalnya dengan prinsip imamah. Sehingga, mereka akan berusaha menjadikan Alquran sebagai dalil bagi klaim-klaim mereka. Adapun metode yang mereka pakai adalah metode takwil. Dan seperti dijelaskan Jalaluddin al-Suyuthi, takwil adalah memindahkan makna ayat dari makna yang dikehendaki oleh ayat tersebut. Atau seperti yang disimpulkan Rosihon Anwar, takwil adalah mengartikan lafaz dengan beberapa alternatif kandungan makna yang bukan makna lahirnya.
Salah satunya bisa dilihat dalam kitab tafsir al-Tibyan al-Jami' li Kulli 'Ulum Alquran karya Abu Ja'fat Muhammad bin Al-Hasan bin Ali al-Thusi. Di kalangan Syi'ah, kitab ini merupaka kitab At-Thabari-nya kalangan Sunni. Kitab tafsir ini sekaligus merupakan kitab tafsir lengkap pertama yang muncul di kalangan Si'ah Itsna Asyariyah. Contohnya seperti ketika menafsirkan ayat berikut:
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)."
Al-Thusi menjadikan ayat tersebut sebagai dasar bagi keimanan Ali Kw. sesudah Nabi Saw. langsung tanpa terputus. Pengertian wali dalam ayat di atas, menurut Al-Thusi adalah yang lebih berhak atau yang lebih utama, yaitu Ali. Juga yang dimaksud wa al-lazina amanu adalah Ali. Maka ayat ini ditujukan kepada Ali.[19] Sama halnya dengan Al-Thusi, Al-Thibrisi dalam tafsir Majma' al-Bayan fi Tafsir Alquran, menggunakan ayat di atas untuk mengukuhkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Tidak beda dengan pendahulunya, Al-Thibrisi juga memaksudkan ayat ini kepada Ali.[20]
Melihat contoh di atas, nampak bagaimana Al-Thusi dan Al-Thibrisi menggunakan penakwilan untuk menakwilkan kata wali dan wa al-lazina amanu yang ditujukan kepada Ali bin Abi Thalib.
Selain du mufasir Syi'ah di atas ada satu mufasir dari kalangan Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah, yaitu Mala Muhsin al-Kasyi. Berbeda dengan metode yang dipakai Al-Thusi dan Al-Thibrisi, Al-Kasyi dalam tafsirnya al-Shafi fi Tafsiri Alquran al-Karim, memakai metode tafsir bi al-ma'tsur. Hal ini terbukti dengan banyaknya beliau menggunaka atsar. Hanya saja karena mermaksud memperkukuh pandangan mazhabnya, atsar yang digunakan kebanyakan riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada ahlu bait.[21]
Contoh mengenai pendapat bahwa Alquran diturunkan untuk memberikan pujian kepada ahlu bait serta menyalahkan musuh-musuh mereka. Untuk menerangkan hal ini, Al-Kasyi menggunakan riwayat Abu Ja'far; "Apabila engkau mendengar Allah menyebutkan suatu kaum dari umat ini dengan sebuta baik, maka kitalah mereka itu. Dan apabila engkau mendengan Allah menyebutkan suatu kaum dengan sebutan yang jelek daripada umat terdahulu, maka mereka itu adalah musuh-musuh kita.[22]
2.      Metode Tafsir Syi'ah Imamiyah Isma'iliyah (Bathiniyah)
Tidak jauh berbeda dengan metode penafsiran Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah, Syiah Imamiyah Isma'iliyah, atau dikenal dengan Syi'ah Bathiniyah juga menggunaka metode takwil dalam upaya-upaya mereka menafsirkan Alquran. Bedanya mereka tidak menulis kitab-kitab tersendiri yang menafsirkan ayat-ayat Alquran. Mereka hanya melakukan penafsiran pada kitab-kitab secara terpisah.[23] Dan perlu diperhatikan, penakwilan mereka terhadap ayat-ayat Alquran terlalu bebas, dalam arti tidak mengenal aturan-aturan takwil seperti yang diketahui dalam Ulumul Quran.
Dalam hal penafsiran Alquran mereka berpendapat bahwa Alquran itu memiliki dua makna; makna lahir dan makna batin. Karena menurut mereka, orang yang mengambil makna lahir Alquran akan mendapatkan siksaan dari hal-hal yang memberatkan dari kandungan kitab suci.[24] Karena pendapat mereka bahwa Alquran itu memiliki makna batin, golongan Syi'ah ini biasa disebut kaum Bathiniyah.[25]
Sebagai contoh ketika menafsirkan Surat al-Hijr ayat 99;
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."
Mereka mengatakan bahwa maksud al-yaqin adalah ma'rifat takwil. Padahal, makna al-yaqin di sini adalah maut. Di lain tempat, kaum Bathiniyah menghalalkan perkawinan dengan saudara-saudara perempuan dan semua muhrim lainnya. Alasan mereka saudara laki-laki lebih berhak atas saudara perempuan mereka. Menurut Abu Bakar Aceh penafsiran mereka merupakan cerminan dari keyakinan yang mirip Plato.[26] Mereka percaya bahwa hukuman ibadah seperti shalat, puasa, dan sebagainya hanya perlu untuk lapisan rakyat yang bodoh dan awam. Akibatnya, setiap ayat Alquran yang berkaitan dengan taklif mereka takwilkan dengan mengambil makna batinnya. Mereka menakwilkan wudhu dengan kepemimpinan imim, zakat dengan penyesuaian jiwa melalui pengetahuan keagamaan, dan sebagainya.[27]
Karena terlalu bebas mereka menggunakan takwil, Mahmud Basuni Faudah sampai berani menyebutkan bahwa mereka bukanlah termasuk golongan orang Islam, walaupun mereka mengklaim sebagai pengikut Ahlu Bait.[28]
3.      Metode Tafsir Syi'ah Zaidiyah
Kelompok Syi'ah Zaidiyah adalah pengikut Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Jika dibandingkan dengan kelompok Syi'ah yang lain, kelompok Syi'ah ini lebih moderat dan lebih dekat dengan paham ahlu sunnah wal jama'ah. Dari segi pandangan keagamaan, kaum zaidiyah banyak dipengaruhi oleh Mu'tazilah, karena memang Imam Zaid pernah bertemu dengan Washil bin Atha', pendiri aliran Mu'tazilah.[29]
Karena lebih dekat dengan ahlu sunnah maka metode penafsirannya pun banyak menggunaka metode tafsir bil ma'tsur. Demikian pula karena banyak dipengaruhi pandangan Mu'tazilah, Syi'ah Zaidiyah juga tidak lepas dari metode tafsir bil ra'yi. Bahkan dalam kitab tafsir Fathu al-Qadir, Imam al-Syaukani sampai menyebutkan kitab tafsir al-Qurthubi dan tafsir az-Zamakhsyari sebagai rujukan tafsirnya.[30]
Sebagai contoh ketika Imam as-Sayukani menafsirkan Surat Ali Imran ayat 169;
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki."
Dalam kitab tafsirnya, Imam as-Syaukani mengemukakan bahwa orang yang mati syahid hidup secara hakiki, bukan secara majazi, dan mereka diberi rizki di sisi Tuhan mereka. Pendapatnya ini beliau dasarkan kepada pendapat jumhur ulama. Bahkan berdasarkan hadis Rasulullah Saw. beliau mengatakan bahwa ruh orang yang mati syahid ada dalam rongga perut burung-burung hijau, mereka mendapat riski dan mereka bersenang-senang.[31]
Itulah gambaran metode tafsir beberapa kelompok Syi'ah. Ada beberapa perbedaan yang dapat dilihat dari kelompok-kelompok Syi'ah dalam metode menafsirkan Alquran.
Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah lebih banyak memakai metode takwil. Di samping itu mereka juga memakai metode tafsir bil ma'tsur. Hal ini dapat dilihat dalam kitab tafsir al-Sahfi karya Imam al-Kasyi. Adapaun Syi'ah Imamiyah Isma'iliyah atau biasa disebut kaum Bahiniyah, walaupun sama memakai metode takwil, tetapi cenderung arogan dan mengabaikan aturan-aturan takwil dalam khazanah Ulumul Quran. Selain itu kelompok Syi'ah ini tidak pernah memiliki satu pun kitab tafsir. Penafsiran mereka tersebar di dalam kitab-kitab karangan ulama mereka, yang tidak mengkhususkan diri sebagai kitab tafsir.
Sementara itu, kaum Syi'ah Zaidiyah cenderung lebih moderat. Dari segi ajaran mereka lebih dekat dengan Ahlu Sunnah, sehingga dalam penafsiran terhadap Alquran mereka memakai metode tafsir bil ma'tsur yang banyak dipakai kaum Sunni. Pandangan mereka juga tidak jauh berbeda dengan aliran Mu'tazilah. Dan tafsirnya pun banyak memakai metode tafsir bil ra'yi, yang banyak dipakai oleh kalangan Mu'tazilah, di samping memakai metode tafsir bil ma'tsur.
Ada kelebihan yang dapat diambil dari metode tafsir yang digunakan kelompok Syi'ah. Dengan menggunakan metode takwil, kelompok Syi'ah lebih konsen kepara makna batin Alquran. Walaupun harus diperhatikan bahwa banyak takwil mereka yang cendrung arogan. Hal ini berbeda dengan metode tafsir Sunni yang cenderung literal dan skriptualis. Sehingga penafsiran Alquran di dunia Sunni kurang memperhatikan aspek batin (esoteris) Alquran.
Adapun kekurangan metode Syi'ah seperti yang dibicarakan di atas, penggunaan metode takwil mereka cenderung arogan dan tidak mengindahkan aturan-aturan takwil dalam khazanah Ulumul Quran. Takwil yang mereka pakai hanya di dasarkan pada kepentingan mereka mencari justifikasi untuk mendukung pandangan mazhabnya. Akibatnya, makna Alquran sering mereka selewengkan demi kepentingan mazhab mereka. Sehingga alih-alih mereka mencari makna batin Alquran malah makna Alquran mereka selewengkan begitu jauh.



       [1] Muhammad Husain az-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I (t.tp: t.p, 1976), hlm. 15    
       [2] Rosihon Anwar, Samudera Alquran, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001, hlm. 222
       [3] Muhammad Husain az-Zahabi, hlm. 3
       [4] Muhammad Ali as-Shabuni, Ikhtisar ulum Alquran Praktis, Jakarta: Pustaka Amani, 2001, hlm. 298-299.
       [5] Muhammad Husain az-Dzahabi, hlm. 218
       [6] Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir: dari Aliran Klasik hingga Modern, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2003, hlm. 314 
       [7] https://ayurahayu2010.wordpress.com/2010/01/22/tafsir-syiah/ diakses tgl. 28-11-2015
       [8] Rosihon Anwar, Samudera Alquran, hlm. 249.
       [9] Rosihon Anwar, hlm. 250
       [10] Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir, Yogyakarta: aLSAQ Press, 2006, hlm. 324
       [11] Ignaz Goldziher, hlm. 325
       [12] Ignaz Goldziher, hlm. 325
       [13] Ignaz Goldziher, hlm. 328
       [14] Mahmud az-Za'bi, Sunni Yang Sunni Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah al-Musawwi, Bandung: Pustaka, 1989. Hlm 15.
       [15] Mahmud Basuni Faudah, Tafsir-Tafsir Alquran Pengenalan dengan Metodologi Tafsir, Bandung: Pustaka, 1987. Hlm. 135.
       [16] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 136.
       [17] Mahmud Basuni Faudah, hlm.221.
       [18] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 238.
       [19] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 155-160
       [20] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 180-182
       [21] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 207
       [22] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 211    
       [23] Rosihon Anwar, Samudera Alquran, Bandung: Pustaka Setia, 2001. Hlm. 204.
       [24] Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir: dari Aliran Klasik hingga Modern, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2003, hlm. 221
       [25] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 216.
       [26] Rosihon Anwar, Samudera… hlm. 205
       [28] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 224.
       [29] Muhammad Basuni Faudah, hlm. 234-238
       [30] Muhammad Basuni Faudah, hlm. 240
       [31] Mahmud Basuni Faudah, hlm. 241 

0 komentar: