16/11/15

Konsep Alquran Tentang Tanggung Jawab Sosial

oleh: Wak Putra
Pasca turunnya kitab suci Alquran, terbukti bahwa kitab suci ini begitu kaya akan pengetahuan, baik itu pengetahuan ruhaniah ataupun sampai pada pengetahuan yang bersifat saintis yang baru dapat terlihat faktanya di abad modern ini.
Sebagai kitab suci, Alquran merupakan pedoman bagi umat manusia secara keseluruhan, pedoman untuk menjalani kehidupan dunia yang pada beberapa ayat Alquran sendiri disebut dengan illa mata'ul ghurur, mata'un wa la'bun (kesenangan yang menipu, kesenangan dan permainan belaka) dan sebagainya. Maka semua umat Islam khususnya harus membaca, mengkaji, memahami, dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Alquran dalam setiap lini kehidupan.
Sebagai makhluk Allah, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Baik itu dibandingkan dengan makhluk lain –tumbuhan dan hewan- maupun dengan sesama manusia sendiri. Sesama manusia; ada yang diciptakan dan diberi kemampuan dalam bidang ilmu geologi namun tidak begitu paham dengan ilmu sosial, ada yang ahli dalam bidang arsitektur namun kurang dalam bidang pengolahan limbah rumah tangga, dan sebagainya. Maka manusia mutlak tidak dapat hidup tanpa berinteraksi kepada sesama. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, saling bekerja sama, saling membantu, dan saling bergotong-royong untuk mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam fungsinya sebagai pedoman bagi manusia, Alquran pun tidak absen dalam memberikan rambu-rambu dan petunjuknya bagi manusia dalam berkehidupan yang sosial. Terdapat beberapa ayat yang membicarakan masalah sosial. Di sinilah penulis memandang perlu untuk mengungkapkan ayat-ayat sosial dalam Alquran, dan memandang penting bagi pembaca untuk memahami dan menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam berkehidupan yang sosial.
Ajaran agama yang dikenal oleh umat Islam berdasarkan kitab suci Alquran secara eksplisit memberikan keterangan bahwa manusia diciptakan dengan beban amanah, amanah untuk beribadah kepada Allah maupun amanah sebagai khalifah.
"Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"
"Dan ingatlah tak kala Tuhanmu berkata kepada para malaikat, 'sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di muka bumi."
Amanah spiritual untuk selalu beribadah dan mengingat Allah menjadi kekuatan batin dan pengingat bahwa kehidupan dunia tidak boleh dilewati dengan hal-hal yang tidak ada sangkut-pautnya terhadap Allah. Segala tingkah laku harus diniatkan dengan benar lillahi ta'ala, sehingga tidak ada pekerjaan yang kosong akan nilai spiritual ibadah.
من حسن اسلام المرء تركه ما لا يعنيه (حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا)
"Di antara (tanda) kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tak berguna baginya." (Hadis hasan riwayat Tirmizi dan lainnya)
Amanah sebagai manager, khalifah di muka bumi mengingatkan bahwa pada semua pribadi memiliki beban untuk bertanggung jawab terhadap kondisi kehidupan. Baik itu tanggung jawab secara personal ataupun tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dengan bawahannya.
كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpin."
Korelasi rasa antara amanah spiritual dan amanah menegerial akan memberi jaminan terhadap keberlangsungan kehidupan yang baik sesuai dengan keinginan Sang Pencipta. Akhirnya, tenang jiwa ketika memberikan pertanggungjawabannya di hadapanNya kelak.

"Dan (pada hari itu) kamu Lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi Balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jatsiyah: 28)

"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat: 13)
Sangat penting untuk diingat oleh setiap manusia bahwa Allah menciptakan manusia lain selain dirinya di bumi ini. Sangsinya, tidak dibenarkan adanya sifat egois, sifat apatis, individualis, feodalistis, merusak, dan semua sifat merugikan manusia lainnya. Berbagai macam bentuk fisik dan psikis Allah ciptakan bukan untuk tujuan perbedaan yang berujung kontak fisik bahkan kematian, berbagai macam bentuk itu adalah sebuah keindahan hidup, keindahan untuk saling mengenali, keindahan untuk saling menghargai, keindahan untuk saling toleransi. Karena sejatinya bentuk fisik hanyalah kamuflase dari bentuk batin yang bertaqwa atau berdosa.
ان الله لاينظر الي صوركم واموالكم ولكن ينظر الي قلوبكم واعمالكم (مسلم)
"Sesungguhnya Allah tidak melihat bagaimana bentuk fisik dan harta kalian, tetapi Allah melihat bagaimana hati dan amal perbuatan kalian." (H.R. Muslim)
Telah disinggung sebelumnya bahwa manusia diciptakan dengan membawa beban amanah; amanah individu maupun amanah kepemimpinan. Secara garis besar amanah tersebut diistilahkan dengan bahasa amar ma'ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Keumuman pemegang tanggung jawab amar ma'ruf nahi munkar ini juga telah diajarkan melalui lisan pembawa risalah Ilahiah Rasulullah Saw:
من رأي منكم منكرا فليغيره بيده, فان لم يستطع فبلسانه, فان لم يستطع فبقلبه, وذلك اضعف الايمان (رواه مسلم)
"Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman." (H.R. Muslim)
Apa lagi jika jelas posisi seseorang itu sebagai seorang pemimpin, maka tanggung jawab sosial yang diamanahkan kepadanya tentu tidak boleh dilalaikan. Pelalaian terhadap tanggung jawab akan keberlangsungan hidup rakyat tentu berakibat hilangnya "keindahan" bahkan mendatangkan murka Allah:

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya." (Q.S. Al-Anfal: 25)

Walaupun secara lahiriah dan batinian kepribadian seorang pemegang tanggung jawab itu baik, namun bersikap apatis terhadap kerusakan-kerusakan yang ada di sekitarnya, maka sangat tidak mustahil dia pun akan mendapat dampak sebagai buah dari pembiaran dan sifat apatisnya.
Sangsi sosial tidak hanya pada pemegang tanggung jawab, karna pada hakikatnya semua adalah pemegang tanggung jawab, setiap perilaku tidak bertanggung jawab tentu ada dampak bagi si pelaku bahkan menimpa pula orang yang tidak tahu apa-apa.
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Q.S. Ar-Ra'd: 11)
Pelajaran yang ingin penulis ungkapkan dari ayat tersebut adalah; jika suatu kaum ingin menjadi kaum yang lebih baik, lebih maju, bermartabat, dan memiliki harga diri, maka hanya dengan tangan-tangan merekalah semua itu dapat terwujud, Allah hanya menetapkan namun yang mengeksekusi adalah kaum itu sendiri. Sebaliknya, tangan-tangan yang kuat dari suatu kaum manapun untuk mencegah keburukan, apabila itu telah menjadi kehendak Allah, maka tidak ada yang dapat menolaknya.
Tentu tidak ada akibat tanpa adanya sebab. Sebab keburukan sudah pasti adanya keingkaran, ingkar mengemban tanggung jawab spiritual dan tanggung jawab menegerial. Di sinilah letak tanggung jawab sosial tiap pribadi untuk saling amar ma'ruf nahi munkar sebagai vaksin dari kemungkaran.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. An-Nahl: 125)

Keterlanjuran perbuatan mungkar tentu menyisakan kemungkinan sebuah perubahan untuk bangkit dan menjadi lebih baik, karena Allah dengan kasih sayangNya terkadang memberi kesempatan untuk itu.

"Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya." (Q.S. Al-Kahfi: 58)

0 komentar: