24/05/15

Manhaj (Metode) Al-Imam Al-Tirmizi Dalam Penulisan Jami' Al-Tirmizi



oleh: Ahmad Putra Dwitama
Penggunaan Istilah Hadis Hasan
Sunan al-Tirmizi yang terkenal juga dengan al-Jami' al-Shahih itu adalah sumber hadis hasan,[1] tetapi apabila diteliti dengan mendalam mengandung hadis-hadis yang shahih, sebagian menurut syarat Abu Daud dan al-Nasa'i. di samping itu sebagian hadis-hadisnya diikuti dengan penjelasan mengenai cacat hadis apabila ada. Menurut al-Imam al-Tirmizi bahwa hadis-hadis yang ditulis dalam kitabnya, adalah yang telah diamalkan oleh fuqaha', sebagaimana telah dikatakan:[2]
"Saya tidak akan menulis dalam kitab saya ini (Sunan al-Tirmizi) suatu hadis kecuali yang telah diamalkan sebagian ahli fiqih."[3]
Kitab al-Tirmizi adalah sumber dari pengetahuan hadis hasan,[4] dan membuat hadis hasan menjadi popular, karena banyak disebutkan di dalam kitab itu.[5] Para ulama berbeda pendapat mengenai hadis hasan itu, termasuk guru-guru maupun murid-murid al-Tirmizi, karena al-Tirmizi tidak memberi ta'rif yang pasti. Para ulama menjadi lebih bingung lagi dengan penyebutan al-Tirmizi; hadis hasan shahih, hasan gharib, hasan shahih gharib, dan shahih gharib.
Ketika sebuah hadis perawinya adil, tetapi kurang kuat hafalannya,[6] sedangkan hadisnya masyhur serta tidak ada cacat atau ditemukan hadis sanadnya banyak, artinya lebih dari satu, hanya saja perawinya tidak dikenal, tetapi perawi itu tidak terdapat dalam daftar perawi lemah dan berbohong, maka hadis itu di bawah derajat shahih, tetapi di atas derajat dha'if. Al-Imam al-Tirmizi memberikan nama hadis hasan.
Al-Imam Al-Tirmizi sendiri mendefinisikan hadis hasan sebagai berikut:

كل حديث يروي لا يكون في اسناده من يتهم بالكذب ولا يكون الحديث شاذا ويروي من غير وجه نحو ذلك

"Setiap hadis diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka berdusta, tidak syaz (asing), dan diriwayatkan tidak hanya dengan satu sanad (jalan)."[7]
Dari rumusan itu ada tiga unsur penting sebagai berikut:
Pertama, isnadnya tidak mengandung prasangka bohong. Hal itu berarti isnadnya tergolong tsiqah (terpercaya), shaduq (benar) dan dhabit (kuat ingatan), meskipun para perawi hadis derajatnya dha'if, kedha'ifan perawi tidak sampai tingkat berbohong. Para ulama hadis juga menjelaskan beberapa perawi hadis hasan itu antara lain, hafalannya kurang kuat, tidak jelas riwayat hidupnya, tidak terdaftar pada kitab al-Jarh wa al-Ta'dil, mudallis (meriwayatkan dari ulama semasa atau sebelumnya dalam keadaan samar). Apabila keadaan sifat-sifat itu tidak mengurangi keadilannya, maka dapat diterima hadis yang diriwayatkan, digolongkan sebagai hadis hasan, sedikit di bawah hadis shahih.
Kedua, hadis itu tidak syadz, menurut Imam Syafi'i hadis itu diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Nabi, bukan sebaliknya, maka disyaratkan hadis hasan itu bersih dari pertentangan periwayatan, karena apabila bertentangan dengan riwayat yang terpercaya, hadis itu ditolak.
Ketiga, diriwayatkan dengan jalan lain yang setingkat. Maksudnya hadis itu diriwayatkan dengan jalan lain satu atau lebih yang sederajat atau lebih tinggi. Bukan jalan (sanad) yang lebih rendah, untuk dapat dijadikan rujukan salah satu di antaranya.[8]
Dengan keterangan di atas, penulis sependapat dengan keterangan beberapa ulama[9] yang menyatakan bahwa al-Imam al-Tirmizi adalah orang pertama yang mempopulerkan pembagian hadis menjadi tiga macam tingkatan, yakni shahih, hasan dan dha'if.
Mengenai istilah-istilah seperti hasan shahih, hasan gharib, shahih gharib, dan hasan shahih gharib[10] berikut penulis paparkan penjelasannya:
Hadis hasan tersendiri dibagi menjadi hasan li-dzatihi dan hasan li-ghairihi.[11] Hadis hasan li-dzatihi adalah hadis shahih. Sedangkan hadis hasan li-ghairihi adalah hadis yang isnadnya tertutup, tidak diketahui riwayat hidupnya, tetapi tidak dicurigai berdusta dengan sengaja, dan tidak berbuat fasiq (hadis dha'if), disamping itu didapatkan syahid (saksi) dan muttabi'.[12] Oleh karena itu, hadis dha'if yang mempunyai sifat demikian dapat naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairihi.[13]
Hadis hasan sendiri dapat meningkat derajatnya menjadi hadis hasan shahih karena keadaan perawi yang meningkat. Setelah diketahui perawinya bersifat hafiz, dhabit, terkenal shaduq, dan tsiqah, diriwayatkan dari beberapa jalan. Meskipun ditemukan satu jalan yang kurang kuat.[14] 'Ajjaj Khatib meringkas pengertian hadis hasan shahih; dua sanad, satu shahih dan satu lagi hasan.[15]
Apabila suatu hadis dinilai gharib, tetapi pada riwayat lain hadis itu dinilai shahih, karena diriwayatkan sesuai dengan syarat hadis shahih, maka hadis itu bernilai shahih gharib.[16] Apabila ada hadis hasan, yang hanya mempunyai satu isnad, tetapi ditemukan saksi (syahid) dan hadis yang semakna (muttabi'), maka hadis itu disebut hadis hasan gharib.[17]
Penilaian ini dihubungkan dengan derajat perawi. Dengan ketelitian yang dimiliki itu menjadi bukti, bahwa al-Imam al-Tirmizi mempunyai kemampuan kedalaman dan kehalusan ilmu hadis, yang disebut dengan fann al-hadits (sani dalam ilmu hadis), yang merupakan kelebihan baginya.

Cara Mengumpulkan Riwayat Hadis
Cara yang diterapkan al-Imam al-Tirmizi dalam hal ini sesungguhnya mengikuti pola pikir gurunya Imam Muslim ibn Hajjaj,[18] di samping mempunyai cara yang dirumuskannya sendiri seperti berikut:[19]
1.      Mengumpulkan beberapa isnad dalam satu hadis;
Hal ini dapat terjadi dengan menambahkan beberapa isnad dengan huruf 'athaf (و) atau mungkin juga mengubah antara dua isnad dengan membubuhkan huruf (ح) seperti di bawah ini:

حدثننا قتيبة وهناد ومحمود بن غيلان قالواحدثناوكيع عن سفيان (ح) وحدثنا محمد بن بشار ثنا عبدالرحمن ثنا سفيان عن عبدالله بن محمد بن عقيل محمد بن الحنفية عن علي عن النبي صلي الله علي وسلم قال: مفتاح الصلاة الطهور وتحريمهاالتكبير وتحليلهاالسلام
"Telah menyampaikan hadis kepada kami Qutaibah, Hanad, dan Mahmud ibn Gailan mereka berkata, telah menyampaikan hadis kepada kami Waki' dari Sufyan, (ح) telah menyampaikan hadis kepada kami Muhammad ibn Basyar, telah menyampaikan hadis kepada kami Abdur Rahman, telah menyampaikan hadis kepada kami Sufyan dari Abdullah ibn Muhammad ibn 'Aqil, Muhammad ibn Hanafiyah dari Ali dari Nabi Muhammad Saw., bersabda: 'Kunci dari shalat itu ialah bersuci, sedang mulai pelaksanaannya takbir, dan penyelesaiannya ialah dengan salam".
Dua isnad dari dua hadis itu bertemu pada Shufyan, ia tsiqah dan masyhur, dua hadis tersebut dihubungkan dengan menggunakan rumus huruf ha', yang artinya benar atau juga berarti haul (berubah).
2.      Menambahkan isnad lain dengan menyebutkan matan dari isnad pertama, dengan kata-kata mitsluhu (مثله) apabila sama lafaz, dengan nahwuhu (نحوه) apabila sama maknanya, seperti hadis yang berkenaan dengan adab.
"Telah menyampaikan kepada kami Mahmud ibn Gailan, telah menyampaikan hadis kepada kami Qabishah, telah menyampaikan hadis kepada kami Shufyan dari Habib ibn Syahid dari Abi Mijlaz berkata, 'Telah keluar Muawiyah, maka berdirilah Abdullah ibn Zubair dan ibn Shufyan ketika melihatnya', maka Muawiyah berkata, 'Duduklah kamu berdua, saya telah mendengar Rasulullah Saw., bersabda, 'Barang siapa memudahkannya untuk mengikuti ia berdiri, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari api neraka". Dalam bab itu juga dari Abu Umamah, kata al-Tirmizi, ini hadis hasan. Telah menyampaikan hadis juga kepada kami, Hanad, telah menyampaikan kepada kami Abu Usamah dari Habib ibn Syahid dan Abu Hijlaz dari Muawiyah dari Nabi Saw., seperti itu (مثله).
3.      Menyebutkan masing-masing isnad dengan matannya masing-masing. Kemudian mengulangi kembali matan itu tambahan lafaz atau perbedaan periwayatan, atau kadang-kadang menjelaskan adanya illah pada hadis itu.
4.      Menunjuk isnad, karena sudah terkenal dan telah dimaklumi para ulama.




Al-Jarhu wa Al-Ta'dil
Al-Imam al-Tirmizi menggunakan beberapa lafaz ta'dil, secara berurutan sebagai berikut:[20]
1.      Menggunakan ism tafdhil.

وقال عبدالرحمن بن مهدي: أثبت أهل الكوفة منصور بن المعتمر

"Abdurrahman ibn Mahdi berkata: Yang lebih mantap dari penduduk Kufah ialah manshur ibn Mu'tamir".
2.      Mengulangi penyebutan lafaz ta'dil.

وحبان بن هلال, هوأبوحبيب البصري, هوجليل ثقة,وثقة يحي بن سعدالقطن. وقال في حجاج الصواف, وحجاج ثقة حافظ عند أهل الحديث

"Dan Hibban ibn Hilal, dia ialah Abu Habib al-Bisyri, dia mulia lagi terpercaya, dan Yahya ibn Sa'id al-Qaththan mempercayainya. Ia berkata tentang Hajjaj al-Shawwaf, dan Hajjaj terpercaya lagi hafiz menurut ahli hadis".
3.      Menjelaskan keadilan perawi bahwa ia adil dan dhabit. Seperti kata al-Imam al-Tirmizi:

وعبدالله بن عطاء ثقة عندأهل الحديث
وسعير بن الخمس ثقة عندأهل الحديث

4.      Al-Imam al-Tirmizi berkata:

قال محمد بن اسماعيل: ليث بن أبي سليم صدوق ربما يهم في شئ

"Muhammad ibn Isma'il berkata, 'Lays ibn Abi Sulaym ialah orang benar, mungkin ada sesuatu prasangka".
5.      Digunakan kata-kata tidak seperti yang telah lalu;

يكتب حديثه وينظر فيه الا أنه دون الثانية

"Hadisnya dapat dicatat, tetapi dengan hati-hati, karena bukan termasuk derajat kedua".
Tekadang juga menggunakan kata muqaribu al-hadits.
6.      Al-Imam al-Tirmizi meletakkan ta'dil yang keenam itu ialah kata-kata shalih (صالح) seperi kata:

وعبدالله بن منير مروزي رجل صالح

"Dan Abdullah ibn Munir adalah orang yang baik".[21]
Sedangkan kata-kata jarh (celaan) yang digunakan al-Imam al-Tirmizi dalam kitab al-Jami' al-Tirmizi antara lain:[22]
1.      Sering digunakan kata:

ليس عندهم بذاك القوي
وصدقة بن موسى ليس عندهم بذاك القوى

"Menurut mereka tidak kuat".
"Dan Shadaqah ibn Musa tidak kuat menurut mereka".

ليس عندهم بالحافظ, وصدقة ليس عندهم بالحافظ

"Mereka tidak hafiz, Shadaqah tidak hafiz menurut mereka".
2.      Celaan yang lebih dari sebelumnya, seperti penggunaan kata;

ضعيف الحديث
ضعيف عند اهل الحديث
منكر الحديث

3.      Celaan berat yang jarang sekali digunakan dalam al-Jami' al-Tirmizi

وعطاء بن عجلان ضعيف ذاهب الحديث

"Dan Atha' ibn Ajlan, dhazib al-hadits".[23]

Sitematika Penulisan Al-Jami' Al-Shahih
Pada masa sebelum tabi' tabi' tabi'in, yakni abad kedua hijriyah, penulisan kitab hadis pada umumnya menggunakan sistem musnad, yakni pengelompokan hadis berdasarkan pada nama isnad[24], seperti musnad Ahmad ibn Hanbal. Hadis yang berasal dari Umar ibn Khaththab dikumpulkan menjadi satu, dari Abu Bakar, dari Abu Hurayrah dan sebagainya, kemudian ada cara lain lagi ialah berdasarkan dari awal kata dari suatu hadis, seperti sistem mu'jam atau kamus.
Generasi tabi' tabi' tabi'in pada abad ketiga hijriyah telah mengubah cara itu. Ahli hadis kenamaan; Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, Abu Daud, al-Nasa'i, al-Tirmizi, Ibn Majah dan lain-lainnya, telah berusaha menciptakan metode baru. Mereka menulis kitab hadis dengan bab dan sub bab. Dalam Shahih al-Bukhari menggunakan juz, kitab dan bab. Al-Imam al-Tirmizi telah mengikuti al-Bukhari, karena kebetulan guru dan juga kawan semasanya.[25]
Para ulama hadis memberikan nama hasil karya terbaik al-Tirmizi itu berbeda-beda, seperti al-Suyuthi memberi nama Shahih al-Tirmizi yang berasal dari Khathib al-Baghdadi, al-Hakim menyebutnya dengan al-Jami' al-Shahih, karena ditemukan di dalamnya hadis-hadis shahih di samping hadis hasan dan hadis di bawah derajat itu. Al-Kattani menyebutnya dengan al-Jami' al-Kabir, sebutan itu jarang digunakan. Di samping itu kitab hadis al-Imam al-Tirmizi itu sering disebut dengan sunan yang dihubungkan dengan al-Tirmizi sehingga menjadi Sunan al-Tirmizi,[26] untuk membedakan dengan sunan-sunan yang lain. Juga ada yang menyebutnya dengan al-Jami', sebutan itu lebih terkenal dan sering dipakai, kemudian dihubungkan dengan al-Tirmizi, sehingga menjadi al-Jami' al-Tirmizi.[27] Sebutan al-Jami' itu karena mengandung berbagai macam masalah keagamaan seperti akidah, hukum, perbudakan, tata cara makan dan minum, bepergian dan tinggal di rumah, tafsir, sejarah, perilaku hidup, perkerti baik dan buruk, dan sebagainya.[28] Sedangkan judul lengkap kitab hadis ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Syuhudi Ismail adalah al-Jami' al-Mukhtashar min al-Sunan 'an Rasulillah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam.[29]
Al-Imam al-Tirmizi menyusun bab-bab dalam kitabnya sesuai dengan susunan kitab fiqih. Dimulai dari bab Thaharah lalu Shalat sampai akhir. Kemudian di bagian akhir dicantumkan permasalahan selain fiqih seperti bab Do'a, Manaqib, dan Tafsir. Al-Imam al-Tirmizi setelah menuliskan hadis dalam suatu bab, al-Imam juga memberi penjelasan derajat hadis apakah shahih atau tidak. Kadang disebutkan juga tentang sanad dan perawinya berserta dengan jarh wa ta'dil-nya. Kadang diikutkan juga pendapat para ulama mengenai permasalahan tertentu. Juga hadis lain yang bertentangan jika ada.[30]
Al-Imam al-Tirmizi dan al-Nasa'i kebanyakan memulai pembahasan dengan menghadirkan hadis yang gharib dan mengandung 'illah terlebih dahulu, kemudian baru menghadirkan yang benar/shahih. Dan ini bukanlah sebuah 'aib bagi al-Imam al-Tirmizi, namun beliau bermaksud menjelaskan 'ilah-nya, kemudian menjelaskan pula isnad yang shahih dan sebagainya.[31]
Secara ringkas, ada dua syarat al-Imam al-Tirmizi dalam penulisan kitabnya; pertama, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa hadis-hadis yang ditulis al-Imam al-Tirmizi dalam kitabnya merupakan hadis-hadis yang telah diamalkan oleh sebagian ulama. Kedua, al-Imam al-Tirmizi tidak berhujjah dengan hadis yang sangat dha'if. Adapun ketika beliau mencantumkan hadis dha'if dalam kitabnya, al-Imam juga memberikan penjelasan mengenainya sesuai dengan kemampuannya.[32]
Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa al-Jami' al-Shahih atau Sunan al-Tirmizi iu terdiri dari 5 juz, 2.376 bab dan 3.956 hadis. Secara rinci sebagai berikut:
Juz I terdiri dari 2 kitab, tentang Thaharah dan Shalat yang meliputi 184 bab 237 hadis.
Juz II terdiri dari kitab Wurud, Jumu'ah, Idayn dan Safar, meliputi 260 bab dan 355 hadis.
Juz III terdiri dari kitab Zakat, Shiyam, Haji, Janazah, Nikah, Rada', Thalaq dan Li'an, Buyu' dan al-Ahkam, meliputi 516 bab dan 781 hadis.
Juz IV terdiri dari kitab Diyat, Hudud, Sa'id, Dzaba'ih, Ahkam dan Wa'id, Dahi, Siyar, Fadhilah Jihad, Libas, Ath'imah, Asyribah, Birr wa Shilah, al-Thibb, Fara'id, Washaya, Wali dan Hibbah, Fitan, al-Ra'yu, Syahadah, Zuhd, Qiyamah, Raqa'iq dan Wara', Jannah dan Jahannam, meliputi 734 bab dan 997 hadis.
Juz V terdiri dari 10 pembahasan, tentang Iman, 'Ilm, Isti'adzah, Adab. Al-Nisa', Fadha'il Alquran, Tafsir Alquran, Da'awat, Manaqib, yang meliputi 474 bab dan 773 hadis, ditambah tentang pembahasan 'Ilal.[33]
Dengan memperhatikan pembagian-pembagian itu maka al-Jami' al-Shahih lebih sistematis dan menarik, hadis yang ditulis dalam suatu bab lebih terbatas dan tidak banyak terulang. Hal itu menyebabkan kitab itu menjadi lebih ramping, tetapi sejumlah besar masalah dapat dicakup dalam bab itu. Para ulama, para guru dan penuntun ilmu akan mudah menggunakannya.[34] Para ulama' dari semua madzhab tertarik untuk mempelajarinya dan membuat syarahnya.[35]
Sebagaimana dijelaskan penulisnya yaitu al-imam al-Tirmizi, isi hadis-hadis dalam al-Jami', telah diamalkan ulama' Hijaz, Iraq, Khurasan dan daerah lain, kecuali dua hadis, mengenai Nabi Muhammad Saw., menjama' shalat zuhur dan ashar, Maghrib dan Isya' tanpa ada sebab, dan hadis mengenai peminum khamr, bagi yang mengulangi perbuatan pelanggaran yang keempat, dihukum dengan hukuman mati. Hadis ini diperselisihkan ulama' baik dari segi sanad maupun dari segi matan, sehingga sebagian ulama' ada yang menerima dan ada yang menolak dengan alasan-alasan yang berdasarkan naql maupun 'aql.[36]
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, seluruh hadis yang tertulis dalam kitab ini meliputi 3.956 buah, Majid Ma'arif menyebut sekitar 5000 buah hadis.[37] Ada yang shahih, hasan, gharib, bahkan Hasby Ash Shiddieqy menyebutkan ada yang munkar.[38] Dilihat dari segi kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut:[39]
1.      Hadis shahih                                                        158 buah         =         4 %
2.      Hasan shahih                                                       1.454 buah      =       36 %
3.      Shahih gharib                                                       8 buah             =      0,2 %
4.      Hasan shahih gharib                                            254 buah         =         6 %
5.      Hasan                                                                   705 buah         =       18 %
6.      Hasan gharib                                                        571 buah         =       14 %
7.      Gharib                                                                  412 buah         =       10 %
8.      Dha'if                                                                   73 buah           =         2 %
9.      Tidak dinilai dengan jelas                                    344 buah         =      7,8 %
Secara rinci derajat hadis setiap juz dijelaskan sebagai berikut:
Juz I terdiri dari:
1.      Hadis shahih                                                                                31 buah
2.      Hadis hasan shahih                                                                      113 buah
3.      Hadis shahih gharib                                                                     -
4.      Hadis hasan shahih gharib                                                           8 buah
5.      Hadis hasan                                                                                  21 buah
6.      Hadis hasan gharib                                                                       13 buah
7.      Hadis gharib                                                                                 10 buah
8.      Hadis dha'if                                                                                 10 buah
9.      Hadis tidak dinilai dengan jelas                                                   31 buah
                                                                                          Jumlah:           237 buah
Juz II terdiri dari:
Juz II terdiri dari:
1.      Hadis shahih                                                                                20 buah
2.      Hadis hasan shahih                                                                      191 buah
3.      Hadis shahih gharib                                                                     -
4.      Hadis hasan shahih gharib                                                           13 buah
5.      Hadis hasan                                                                                  52 buah
6.      Hadis hasan gharib                                                                       31 buah
7.      Hadis gharib                                                                                 26 buah
8.      Hadis dha'if                                                                                 8 buah
9.      Hadis tidak dinilai jelas                                                               38 buah
                                                                                          Jumlah:           379 buah
Juz III terdiri dari:
1.      Hadis shahih                                                                                31 buah
2.      Hadis hasan shahih                                                                      389 buah
3.      Hadis shahih gharib                                                                     -
4.      Hadis hasan shahih gharib                                                           23 buah
5.      Hadis hasan                                                                                  72 buah
6.      Hadis hasan gharib                                                                       79 buah
7.      Hadis gharib                                                                                 48 buah
8.      Hadis dha'if                                                                                 13 buah
9.      Hadis tidak dinilai jelas                                                               110 buah
                                                                                          Jumlah:           769 buah
Juz IV terdiri dari:
1.      Hadis shahih                                                                                34 buah
2.      Hadis hasan shahih                                                                      276 buah
3.      Hadis shahih gharib                                                                     2 buah
4.      Hadis hasan shahih gharib                                                           67 buah
5.      Hadis hasan                                                                                  414 buah
6.      Hadis hasan gharib                                                                       175 buah
7.      Hadis gharib                                                                                 158 buah
8.      Hadis dha'if                                                                                 40 buah
9.      Hadis tidak dinilai jelas                                                               54 buah
                                                                                          Jumlah:           1.220 buah
Juz V terdiri dari:
1.      Hadis shahih                                                                                42 buah
2.      Hadis hasan shahih                                                                      458 buah
3.      Hadis shahih gharib                                                                     6 buah
4.      Hadis hasan shahih gharib                                                           143 buah
5.      Hadis hasan                                                                                  146 buah
6.      Hadis hasan gharib                                                                       273 buah
7.      Hadis gharib                                                                                 170 buah
8.      Hadis dha'if                                                                                 2 buah
9.      Hadis tidak dinilai jelas                                                               111 buah
                                                                                    Jumlah:           1.351 buah

Penjelasan Terhadap Bab-bab
Hasil optimal yang telah dicapainya ialah menyusun kitab Jami' menyesuaikan dengan bab fiqih, dari bab thaharah seterusnya sampai bab-bab yang diperlukan, sampai bab akhlak, do'a, tafsir, fadha'il dan lain-lain. Ia juga telah menulis kitab-kitab lain seperti telah disebutkan di atas.
Dalam pemilihan kata-kata untuk judul pada bab-bab, al-Imam al-Tirmizi memilih kata yang mudah dipahami, secara terperinci penggunaan kata untuk judul bab dapat diuraikan sebagai berikut:[40]
1.      Bentuk berita umum
Judul dengan bentuk berita itu sering digunakan dalam kitab ini. Seperti judul bab:

باب ماجاء في السواق

"Bab tentang siwak".
Contoh lain:

ما جاء في تخليل اللحية

"Bab mengenai menyela-nyela janggut".
2.         Judul bab dengan khabar khusus
Hal ini berarti telah digunakan batasan tertentu.

ماجاءفي الوضوء ثلاثاثلاثا

"Bab mengenai wudhu' tiga kali-tiga kali".
Contoh lain:

ما جاء فيمن يسمع النداء فلايجيب

"Bab mengenai orang yang mendengar panggilan, tetapi tidak menghadiri".
3.    Bab dengan menggunakan bentuk kata pertanyaan
Yang dimaksud dengan pertanyaan dalam bab itu ialah kalimat yang memerlukan jawaban ya atau tidak, yang berarti masih memerlukan penjelasan dan yang masih memerlukan pemikiran. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.     Mungkin keadaan bab itu masih ada khilaf/selisih pendapat, yang masih memerlukan bantahan atau dukungan, atau pemilihan pendapat yang lebih baik, seperti:

باب ماجاء كيف النهوض من السجود

"Bab mengenai bagaimana gerakan sujud".
Masalah itu masih diperselisihkan diantara para ulama'.
b.    Mungkin mengungkapkan pertanyaan yang merupakan penjelasan terhadap suatu masalah dari kesepakatan ulama' yang menjadi tujuan penjelasan untuk mengetahui dalil masalah itu, atau memberikan rincian yang diarahkan pada dalil yang diperlukan, seperti bab:

باب ماجاء كم فرض الله على عباده من الصلوات

"Bab mengenai beberapa raka'at Allah mewajibkan atas hamba-Nya dari shalat."
4.    Mengutip penjelasan dari hadis bab, dengan membuat lafaz hadis dalam riwayat bab itu menjadi penjelasan sebagian atau semuanya.
a.     Perkataan dalam shalat;

باب ماجاء اذا أقيمت الصلاة ووجد أحدكم الخلاء فليبدأ بالخلاء

"Bab apabila telah dilakukan iqamah shalat dan seseorang hendak qadha' hajat, maka hendaklah diteruskan hajat itu."
b.    Perkataan al-Imam al-Tirmizi dalam hal bab;

باب ماجاء أن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب

"Bab mengenai sesungguhnya Allah senang bersin, dan tidak senang menguap."
c.     Hadis yang menerangkan sebagian saja dari judul bab.

ما جاء في الركعتين اذا جاء الرجل والامام يخطب

"Bab tentang shalat dua rakaat jika seorang lelaki datang dan imam sedang berkhutbah."
5.    Pemberitaan dari permulaan timbulnya sesuatu hukum.
Al-Imam al-Tirmizi memberikan penjelasan pada permulaan suatu hukum dengan mengangkatnya ke permukaan seperti penjelasannya masalah adzan;
Al-Imam al-Tirmizi memberikan penjelasan pada permulaan suatu hukum dengan mengangkatnya ke permukaan seperti penjelasannya masalah adzan;

باب ماجاء فى بدء الأذان

"Bab mengenai permulaan adazn."
6.    Bentuk bab nasikh dan mansukh
Al-Imam al-Tirmizi mempunyai cara menyusun bab yang khusus di dalam kitabnya. Al-Imam al-Tirmizi juga menentukan bab untuk dasar nasikh dan bab yang lain untuk dasar mansukh. Demikian juga dalam menjelaskan pendapat yang masih diperselisihkan. Setiap penjelasan bardiri sendiri dan disebutkan dalam bab itu dalil-dalil dari sunnah. Cara demikian banyak dilakukan. Cara itulah yang membuat al-Jami' al-Tirmizi mempunyai keistimewaan dari kitab hadis yang lain.
Sebagai contoh, masalah wudhu' yang terkena makanan yang masak, diuraikan dalam dua bab. Yang pertama dalam bab thaharah;

باب الوضوء مما غيرت النار

"Bab mengenai wudhu' (rusak) karena api telah mengubahnya."
Ditakhrijkan dari hadis Abu Hurairah:
"Wudhu' itu diwajibkan, karena makan sesuatu yang telah dimasak denga api, meskipun sedikit susu yang telah dikeringkan."
Ditakhrijkan hadis Jabir:
"Seorang wanita datang kepada Rasulullah Saw., masih ada bekas daging dari daging kambing yang telah ia makan, kemudian ia shalat 'ashar, sama sekali tidak berwudhu'."
Al-Imam al-Tirmizi telah menerangkan bahwa hadis ini menjadi nasikh bagi hadis yang pertama. Pendapat itulah yang diamalkan sebagian ulama' dan telah difatwakan sebelumnya.
7.    Penjelasan dengan sistem istinbat
Banyak penulis terkenal meletakkan judul dalam kitab mereka untuk menunjukkan kandungan kitabnya. Sasarannya dan makna bagi para pembaca sejak permulaan buku. Prinsipnya judul dan penjelasan itu agar dapat memberi gambaran isi bab itu secara nyata dan mudah. Oleh karena itu mengapa diletakkan penjelasanyang bersifat istinbat (mengeluarkan hukum dari dalil), yang memerlukan pemikiran, sampai pada suatu kesimpulan. Hal itu dapat dijelaskan di sini, bahwa penulis kadang-kadang tidak membatasi apa yang telah dirumuskan terdahulu. Bahkan mereka memberikan tambahan permasalahan yang lain yang memerlukan istinbat.
Al-Imam al-Tirmizi tidak terlalu banyak menggunaka pola bab dengan istinbat itu. Sesungguhnya pola itu mengambil contoh dari al-Imam al-Bukhari, akan tetapi ada beberapa hal yang menggunakan caranya sendiri, sesuai dengan perkembangan pemikirannya, dan situasi masyarakat yang terjadi.
Pola itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.         Masalik musytarikah (pola isytirak)
Pola persamaan yang ada pada al-Jami' al-Tirmizi dengan Jami' al-Bukhari adalah mengenai penjelasan istinbathiyah yang banyak membuat suatu seni dari al-Imam al-Tirmizi dalam ber-istinbath hukum.
Pola merupakan suatu cara yang dapat menambah penjelasan dari hukum yang pokok (asal), karena adanya penjelasan tambahan dari hadis lain. Seperti contoh:

باب ماجاء في الجماعة فى مسجد قدصلى فيه مرة, وأخرج فيه حديث أبي سعيد قال: جاء رجل وقد صلى رسول الله فقال: أيكم يتجر على هذا فقام رجل فصلى معه

"Bab mengenai jama'ah di masjid sedangkan seseorang telah shalat wajib sekali. Telah ditakhrijkan hadis Abu Sa'id berkata, 'Telah darang seorang laki-laki,dan Rasulullah Saw., telah shalat, maka Rasulullah Saw., bersabda, 'Siapa di antara kamu yang akan mencari keuntungan terhadap ini?' Maka berdirilah seorang laki-laki yang baru datang."
b.         Dalam penjelasan bab, dipandang perlu untuk menambah penjelasan. Al-Imam al-Tirmizi sering memberikan bab berikutnya dengan judul bab dari hal itu (باب منه). Penggunaan kata itu dikembangkan, dengan kata lain yang semakna, misalnya: باب منه أيضا  atau باب منه أخر  atau باب أخر منه
Demikian juga data yang sesekali menggunakan kata باب منه, باب أخر . Contoh; bab 113 dan 114:

باب ما جاء فى مواقت الصلاة
وأخرج فيه حديث ابن عباس وحديث جابر فى امامة جبريل بالنبى لتعليمه المواقيت. ثم قال: (باب منه) و أخرج فيه حديث أبي هريرة قال.....

"Bab mengenai waktu-waktu shalat
Ditakhrijkan hadis Ibn Abbas dan hadis Jabir dalam hal keimaman Jibri AS., dengan Nabi untuk mengajarkan Nabi tentang waktu-waktu shalat. Bab itu adalah bab 113, kemudian diikuti bab 114 dengan judul bab minhu yang telah dijelaskan dengan hadis Abu Hurairah…
Berhubungan dianggap masih diperlukan penjelasan lagi, maka ditambah bab 115 dengan bab masih terkait dengan waktu-waktu dengan judul باب منه  atau untuk kedua kali.


       [1] M. Agus Shalahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 147. 
       [2] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, Ma'a As'ilati wa Ajwibati fi Mushthalahi al-Hadits, (Thantha: Maktabatu Makkah, 2010), hlm. 23. 
      [3] Abu Isa Muhammad ibn Isa al-Tirmizi, Ensiklopedia Hadis 6; Jami' al-Tirmizi, (Jakarta: Almahira, 2013), hlm. 1276. Diungkapkan juga, kecuali dua hadis tentang menjamak shalat dan peminum khamr, keduanya masih diperselisihkan. Shubhi Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, hlm. 400.
       [4] M. Agus Shalahudin dan Agus Suyadi, hlm. 147.
       [5] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, hlm. 36. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 162. Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadis, (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2006), hlm 154. Shubhi Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Beirut: Dar al-'Ilmi li al-Malayin, 1977), hlm. 157. Al-Hafiz Ibn Katsir, al-Ba'its al-Hadits, Syarh Ikhtishar 'Ulum al-Hadits, (Beirut: Dar al-Fikri, 1996), hlm. 32.
       [6] Idri Shaffat, Studi Hadis, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 159. 
       [7] Abu Isa Muhammad ibn Isa al-Tirmizi, hlm. 1289. Idri Shaffat, hlm. 159. Mahmud Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadits, (tanpa tahun dan penerbit), hlm. 38. Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadis, (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2006), hlm. 78 dan 152. Al-Hafiz Ibn Katsir, al-Ba'its al-Hadits, hlm. 29.
       [8] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, hlm. 36. Lihat juga Al-Imam Abi 'Amrin wa 'Utsman ibn 'Abdi al-Rahman al-Syahruzury, Muqaddimah ibn al-Shalah, fi 'Ulumi al-Hadits, (Lebanon: Dar Kutub al-'Ilmiyah, 2010), hlm. 50. Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadis, (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2006), hlm. 152.
       [9] Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadis, (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2006), hlm. 154. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu, (Damaskus: Dar al-Fikri, 1989), hlm. 331.
       [10] Untuk penjelasan hadis hasan shahih gharib silahkan lihat Nuruddin 'Itr, Manhaj al-Naqdi fi 'Ulumi al-Hadits, (Damaskus: Dar al-Fikri, 1981), hlm. 272. Muhammad Adib Shalih, Lamhat fi Ushuli al-Hadits, hlm. 185-188.
       [11] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 160-161. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, hlm. 332. Muhammad Adib Shalih, Lamhat fi Ushuli al-Hadits, hlm. 165-170.
       [12] Shubhi Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, (Beirut: Dar al-'Ilmi li al-Malayin, 1977), hlm. 156-157.
       [13] M. Agus Shalahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 146-147.
       [14] Mahmud Thahhan, hlm. 40. Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, hlm. 37. Ali ibn Ibrahim Hasyisy, 'Ilmu Mushthalahi al-Hadits al-Tathbiqy, (Iskandaryah: Daru al-'Aqidah, 2012), hlm. 226. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 162. Rif'at Fauzi 'Abdil Muthallib, al-Madkhal ila Manahiju al-Muhadditsin, al-Usus wa al-Tathbiq, (Kairo: Daru al-Salam, 2008), hlm. 250. Al-Hafiz Ibn Katsir, al-Ba'its al-Hadits, hlm. 33.
       [15] Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu, (Damaskus: Dar al-Fikri, 1989), hlm. 335. Nuruddin 'Itr, Manhaj al-Naqdi fi 'Ulumi al-Hadits, (Damaskus: Dar al-Fikri, 1981), hlm. 272. Muhammad Adib Shalih, Lamhat fi Ushuli al-Hadits, hlm. 180-183.
       [16] Nuruddin 'Itr, Manhaj al-Naqdi fi 'Ulumi al-Hadits, hlm. 271-272.
       [17] lihat Abu Isa Muhammad ibn Isa al-Tirmizi, hlm. 1291. Atau Nuruddin 'Itr, hlm. 272.
       [18] Yasir al-Syamaly, al-Wadhih fi Manahij al-Muhadditsin, ('Aman: Dar al-Hamid, 2006), hlm. 182.
       [19] Ahmad Sutarmadi, hlm. 110-116.
       [20] Sebagai  perbandingan, lihat M. Agus Shalahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 164-165. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, hlm. 161-162.
       [21] Ahmad Sutarmadi, hlm. 134-136.
       [22] Sebagai perbandingan, lihat M. Agus Shalahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 165-167.
       [23] Ahmad Sutarmadi, hlm. 137-138.
       [24] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, Ma'a As'ilati wa Ajwibati fi Mushthalahi al-Hadits, (Thantha: Maktabatu Makkah, 2010), hlm. 30.
       [25] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, hlm. 23-24.
       [26] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, Syarhu 'Ilali al-Hadits, hlm. 82.
       [27] M. Syuhudi Ismail, hlm. 8.
       [28] Idri Shaffat, Studi Hadis, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 120-121.
       [29] M. Syuhudi Ismail, hlm. 8.
       [30] Rif'at Fauzi 'Abdil Muthallib, al-Madkhal ila Manahiju al-Muhadditsin, al-Usus wa al-Tathbiq, (Kairo: Daru al-Salam, 2008), hlm. 253.
       [31] 'Ali Nayif Baqa'I, Manahij al-Muhadditsin al-'Ammah wa al-Khashshoh. (Beirut: Dar al-Basya'ir al-Islamiyah, 2009), hlm. 121.
       [32] 'Ali Nayif Baqa'I, Manahij al-Muhadditsin al-'Ammah wa al-Khashshoh, hlm. 109-110.
       [33] M.Syuhudi Isma'il, hlm. 79 dan  89.
       [34] Yasir al-Syamaly, al-Wadhih fi Manahij al-Muhadditsin, ('Aman: Dar al-Hamid, 2006), hlm. 185.
       [35] Salah satu nama kitab syarh-nya adalah Tuhfatu al-Ahwadzi. Abi Abdillah Mushthafa, hlm. 31.
       [36] Abi Abdillah Mushthafa ibn al-'Adawy, hlm. 24.
       [37] Majid Ma'arif, Sejarah Hadis, terjemahan Tarikh-e Umumi_ye Hadits, (Jakarta: Nur al-Huda, 2012), hlm. 188.
       [38] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hlm. 112.
       [39] Ahmad Sutarmadi, hlm. 164-166.
       [40] Ahmad Sutarmadi, hlm. 167180.

0 komentar: