16/11/15

Konsep Alquran Tentang Ilmu Pengetahuan

Oleh: Ahmad Putra Dwitama
Konsep dasar ilmu pengetahuan menurut pandangan Alquran dapat dipahami dari lima ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
  
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Dari ayat di atas diketahui bahwa ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui dua jalan; Allah mengajarkan dengan pena (apa yang telah diketahui manusia sebelumnya), dan mengajarkan manusia tanpa pena (apa yang belum diketahui manusia) atau yang biasa disebut dengan ilmu kasb atau laduni.

Selain jalan diperolehnya ilmu pengetahuan, secara eksplisit ayat di atas diawali dengan perintah iqra' (bacalah). Maksudnya, untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ada syarat yang harus terlebih dahulu dikerjakan, yaitu membaca. Membaca dalam arti luas tidak hanya membaca teks tertulis di atas kertas atau batu saja, hal ini juga diperkuat dengan riwayat perintah malaikat Jibril kepada nabi. Nabi diperintahkan untuk membaca tanpa ada tulisan yang ditunjukkan oleh malaikat Jibril. Maka iqra' di sini berarti luas; membaca teks tertulis secara khusus dan membaca kehidupan secara umum. Dengan pekerjaan membaca lah ilmu pengetahuan akhirnya dapat diraih oleh manusia. Baik itu melalui qalam atau langsung dari Allah.
Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia sebagai khalifah di bumi. Tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentu amanah tersebut tidak akan terlaksana dengan baik. Keadilan tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya manusia-manusia berilmu. Karena dengan ilmu manusia mampu me-manage alam sesuai dengan kehendak Sang Pencipta;

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Ali Imran:18)

Peranan yang demikian penting, ilmu pengetahuan membawa pemiliknya kepada derajat mulia. Orang yang berilmu akan jelas berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Baik dalam tutur kata, tingkah laku, dan sebagainya.

"(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (Q.S. Az-Zumar: 9)

Imam Syafi'i, tentang derajat mulia seorang yang berilmu pengetahuan, dipujinya dalam bait syair berikut:

العالم كبير وان كان حادثا # والجاهل صغير وان كان شيخا
"Seorang yang berilmu derajatnya mulia walau berumur muda # Seorang yang bodoh derajatnya hina walau berumur tua."

Hal yang tidak boleh dilupakan dalam konsep ilmu pengetahuan menurut Alquran adalah bahwa seorang penuntut ilmu diharuskan untuk beriman kepada Allah SWT. Artinya beriman dan berilmu pengetahuan harus saling besinergi dalam diri setiap manusia. Iman yang bersih akan menjadi pembimbing ilmu yang dimiliki. Kemana dan untuk apa ilmu pengetahuan digunakan, apakah untuk kemaslahatan manusia atau kehancuran.
  
"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Mujadalah: 11)

Kalimat Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah mendahulukan beriman dari kalimat berilmu pengetahuan. Kemutlakkan untuk beriman menjadi sangat penting agar ilmu pengetahuan dapat direalisasikan untuk kepentingan-kepentingan yang mengandung maslahat bagi seluruh alam.
Setidaknya ada beberapa alat pada diri manusia yang telah diberikan Allah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pasca kelahirannya di muka bumi dengan kondisi tidak tahu apapun, manusia disiapkan dengan alat pendengaran, penglihatan, dan hati.
  
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (Q.S. An-Nahl: 78)
Dengan tiga alat inilah manusia dapat menangkap ilmu pengetahuan dan mengimplementasikannya di jalan yang benar. Bahkan Allah secara eksplisit mencela orang yang tidak menggunakan tiga alat ini.
  
"Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A'raf: 179)




0 komentar: